Oleh: Gilang Rahadian MA .SE.MM

Satu bulan belakangan, TL laman medsos (Twitter, IG, Facebook & Status WA) saya dipenuhi oleh posting pengurus atau kader Partai Demokrat yang mengupload dokumentasi kegiatan-kegiatan sosial berupa penyemprotan disinfektan, pembagian masker atau sarung tangan, pembagian sembako, dan tambahan pada bulan Ramadhan ini pembagian ta’jil untuk masyarakat. Dari Sabang sampai Merauke, ditingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota seluruh kader bahu membahu menjalankan instruksi Mas Ketum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bernomor 03 sebagai lanjutan dari Instruksi Ketua Umum Nomor 01 tentang Gerakan Nasional “Demokrat Lawan Corona’ dan Nomor 02 tentang Utamakan Keselamatan Diri saat Melaksanakan Kegiatan.

Nyata betul kualitas “muda adalah kekuatan” yang menjadi brand AHY. Slogan tersebut diimplementasikan dalam sebuah tindakan yang menunjukkan karakteristik kepemimpinan kaum muda yang memiliki ide-gagasan, kreatif, kritis dan mau tampil (Masrur, 2007). Dimasa pandemi Covid – 19, Ketika terjadi kegamangan stake holder dalam mengambil sekaligus mengeksekusi kebijakan AHY membawa Demokrat untuk tampil memecah kebuntuan dan kebekuan.

Fungsi partai politik sejatinya adalah memperjuangkan kesejahteraan masyarakat melalui saluran kekuasaan. Dengan sigap AHY menginstruksikan para kader Partai yang duduk di eksekutif dan legislatif untuk merelokasi anggaran dan memprioritaskan kegiatan organisasi pemerintahan menangani penyebaran wabah Covid – 19. Namun sikap kritis yang ada pada diri AHY memahami bahwa Covid – 19 tidak akan bisa dihadapi secara sektoral sehingga membutuhkan uluran tangan dan tanggungjawab seluruh pihak, AHY menyebutnya sebagai “perang semesta”. Sebagai kelanjutannya AHY memberi instruksi agar kader partai melakukan pengumpulan dana secara swadaya untuk kemudian dijadikan sembako atau kebutuhan masyarakat dan dibagikan secara adil merata guna menyempurnakan kinerja pemerintah.

AHY sangat memahami bahwa dalam sistem demokrasi langsung hari ini partai Demokrat harus tampil selangkah kedepan. Baik dalam hal ide, gagasan yang selaras dengan perbuatan, pun tampil untuk mempublikasikan hal tersebut sebagai content komunikasi publik partai, karena publik akan selalu menagih janji dan janji menuntut bukti istilah lain ”no picture is hoax”, Itulah mengapa laman TL saya, dan mungkin teman-teman penuh akan dokumentasi kegiatan kader Partai Demokrat, sebagai salah satu point dalam intruksi Mas Ketum yaitu “Melakukan dokumentasi dan publikasi dalam Gerakan Nasional Demokrat Peduli dan Berbagi”

  Fraksi Demokrat-PAN DKI Jakarta Apresiasi Ketegasan Anies Menyegel Pulau Reklamasi

Rakyat Mencatat
Tujuan utama partai politik tentulah meraih kekuasaan. Kekuasaan yang diperoleh melalui kepercayaan dan ikatan yang dibangun atas dasar kepedulian terhadap permasalahan rakyat yang diperjuangkan, baik melalui jalur pemerintahan maupun swadaya partai.

Inilah menurut saya yang tengah dijalankan Partai Demokrat, dengan mengusung slogan “harapan rakyat perjuangan demokrat”. Menangkap suara hati mayoritas masyarakat, dengar kaji dan kerjakan. Suatu metode dasar namun tepat dalam menjalankan kekuasaan, salah satu ciri tambahan karakteristik kepemimpinan kaum muda “Sederhana”.

Seharusnya masyarakat mencatat progresifitas gerakan partai demokrat sebagai salah satu alasan dalam menentukan pilihan politik pada pemilu 2024 nanti. Proses demokrasi harus mengedepankan prinsip punished dan reward, agar yang berprestasi mendapatkan porsi, yang tak peduli memperbaiki diri.

Menurut Hatta, demokrasi janganlah diarahkan untuk mencari sosok pemimpin manusia sempurna selayaknya “Ratu Adil”, karena itu tak akan pernah ada dan cenderung fatamorgana. Yang dipilih dalam demokrasi adalah pemimpin yang mengerti membaca situasi kebatinan dan aspirasi mayoritas rakyat, meskipun ia banyak kekurangan namun semua sirna sebab prinsip kepemimpinan yang menghargai kedaulatan rakyat.

Apa yang dicontohkan oleh AHY diawal kepemimpinannya sebagai Ketua Umum Partai sesuai dengan tesis Max Weber yang mengatakan bahwa politik adalah panggilan (vocation) bagi politisi yang hidup dalam politik. Memiliki semangat – gairah (passion), rasa bertanggungjawab (a sense of responsibility) dan rasa proporsional (a sense of proportion) dalam menduduki kursi kekuasaanya. Gerakan Nasional Demokrat Peduli dan Berbagi adalah contoh konkritnya, dan rakyat harus mencatatnya.

• Fungsionaris DPD Partai Demokrat DKI Jakarta
• Pembina Garda Rakyat Centre (GRC)

Komentar Facebook