phobia kekuasaan

Demokrat DKI – Ketika kekuasaan sudah menjadi kebutuhan banyak orang, segala cara pasti akan dilakukan untuk menggapainya. Karena kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan oleh seseorang atau kelompok guna menjalankan kewenangan tersebut sesuai dengan kewenangan yang diberikan, kewenangan tidak boleh dijalankan melebihi kewenangan yang diperoleh atau kemampuan seseorang atau kelompok untuk memengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku demikian menurut Miriam Budiardjo.

Dalam pembicaraan umum, kekuasaan dapat berarti kekuasaan golongan, kekuasaan raja, kekuasaan pejabat negara. Sehingga tidak salah bila dikatakan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak yang ada pada pemegang kekuasaan tersebut. Robert Mac Iver mengatakan bahwa Kekuasaan adalah kemampuan untuk mengendalikan tingkah laku orang lain baik secara langsung dengan jalan memberi perintah / dengan tidak langsung dengan jalan menggunakan semua alat dan cara yg tersedia. Kekuasaan biasanya berbentuk hubungan, ada yang memerintah dan ada yang diperintah. Manusia berlaku sebagau subjek sekaligus objek dari kekuasaan. Contohnya Presiden, ia membuat UU (subyek dari kekuasaan) tetapi juga harus tunduk pada Undang-Undang (objek dari kekuasaan).

Sementara dalam mempertahankan kekuasaan manusia selalu saja menghalalkan cara demi kekuasaan tersebut. Sehingga mau tidak mau menjadi fobia terhadap segala hal yang membuat elektabilitas kekuasaannya tergerus dari realitas yang ada. Jadi segala hal yang menyangkut kemerosotan popularitas, kekuasaan akan cenderung menyalahkan pihak oposisi. Disitulah penyakit fobia sudah menghinggapi manusia yang sedang berkuasa.

Sementara, Fobia sendiri adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap fobia sulit dimengerti. Itu sebabnya, pengidap tersebut sering dijadikan bulan-bulanan oleh teman sekitarnya. Ada perbedaan “bahasa” antara pengamat fobia dengan seorang pengidap fobia. Pengamat fobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang yang sedang berkuasa, takut dengan oposisi yang secara nyata tidak memiliki kekuatan yang masif dengan infrastruktur yang dimilikinya. Sementara di bayangan mental seorang pengidap fobia, subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan.

  Sikapi Pertemuan SBY dengan Prabowo, Demokrat DKI Harap Ada Kesepakatan yang Terbangun

Dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek fobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi adalah suatu keadaan di mana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidak-mampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Penyebab lain terjadinya fiksasi dapat pula disebabkan oleh suatu keadaan yang sangat ekstrem seperti trauma bom, atau hilang kekuasaan dan sebagainya.

Untuk itulah, jika kita tidak siap dalam menghadapi fobia kekuasaan akan membuat diri kita selalu tidak nyaman dengan fenomena apapun yang justru merugikan kekuasaan tersebut. Sementara kekuasaan yang tidak rasional akan menunjukkan fobianya dan menjadi baper berkepanjangan dalam realitas sosial politik kita dewasa ini.

Oleh Himawan Sutanto
Kader Partai Demokrat

Komentar Facebook