Sampaikan Simpati Terhadap Kesewenangan Rektorat Kepada Mahasiswa ISTN, MMD DKI Jakarta - Itu Mengkhianati Reformasi
Sampaikan Simpati Terhadap Kesewenangan Rektorat Kepada Mahasiswa ISTN, MMD DKI Jakarta - Itu Mengkhianati Reformasi

Demokrat DKI – Kehidupan dunia kampus dengan geliat mahasiswa di dalamnya seharusnya dipenuhi dengan berbagai gerakan komunal yang berbasis semangat pembaharuan. Sebagai agent of change atau agen perubahan, diskursus mahasiswa dengan berbagai giat guna mengembangkan kapasitas intelektualitas serta ilmu pengetahuan haruslah menjadi perhatian utama dari kampus. Tetapi kenyataan seperti itu hanya menjadi sebuah cerita usang dari rumitnya persoalan pengelolaan dunia pendidikan di Indonesia, kampus terutama.

Alih-alih memperkenalkan dunia kampus dengan segala aktivitasnya kepada mahasiswa baru sebagai upaya menciptakan nuansa pembelajaran dan peningkatan kapasitas intelektual serta akademik, pihak Rektorat ISTN dalam hal ini, justru melarang kegiatan penyambutan mahasiswa baru dilakukan oleh Lembaga Kemahasiswaan ISTN. Atas hal tersebut, mahasiswa ISTN pun menggelar aksi demonstrasi di lingkungan kampus sebagai unjuk protes dari kebijakan pihak kampus.

Bukannya melakukan evaluasi sistem pengelolaan kemahasiswaan, justru pihak kampus disinyalir telah bertindak sewenang-wenang dengan menskorsing sejumlah mahasiswa yang menggelar aksi demonstrasi untuk memprotes larangan rektorat tersebut. Presma ISTN Arief Nurrahman, mengatakan bahwa, kondisi tersebut tentunya sangat bertolak belakang dengan idealnya kehidupan sebuah kampus.

Hal ini pun langsung menjadi perhatian bagi Muda Mudi Demokrat (MMD) DKI Jakarta yang menyampaikan simpati serta keprihatinannya atas kondisi di ISTN (Institut Sains dan Teknologi Nasional). Satria Wahid Ade Putra atau yang akrab disapa Putra selaku Ketua MMD DKI Jakarta melihat bahwa pihak kampus telah mengkhianati cita-cita reformasi dan memberikan preseden buruk terhadap penerapan berdemokrasi di dunia kampus.

“Saya cukup prihatin mendengar kabar adanya skorsing akibat melakukan aksi unjuk rasa di lingkungan kampus. Ini sudah 20 tahun sejak reformasi bergulir di bumi pertiwi. Kemudian masih ada pula pemandangan dilarangnya hak menyatakan pendapat di muka umum. Saya khawatir ini akan memberikan preseden buruk bagi penerapan kehidupan sosial di kampus. ISTN mungkin yang tersorot, di luar sana barangkali lebih banyak kampus-kampus yang dibungkam hak menyatakan pendapatnya,” ungkap Satria Wahid Ade Putra.

Lebih jauh Ia menambahkan, seharusnya pihak rektorat dapat membuka diri dari adanya kritik serta mampu memberi teladan akan pentingnya dialog dengan mahasiswa. Menurutnya, jika pihak rektorat mau membuka dialog maka akan ada solusi yang mampu diretas secara bersama-sama.

  Demokrat Jakarta Menyayangkan Pernyataan Wagub DKI Terkait Indikasi Rumah Ibadah jadi Sarang Penyebaran Radikalisme

“Saya lihat di pemberitaan ini kan pihak rektorat menutup pintu untuk diadakannya dialog, mereka lalu secara sepihak langsung melayangkan surat pemanggilan kepada orang tua yang nantinya akan berujung pada skorsing. Alasan dari surat pemanggilan dan skorsing itu apa juga tidak dijelaskan kepada mahasiswa terkait. Toh mahasiswa kan bukan usia anak-anak, mereka sudah dewasa dan bebas menentukan sikap atas reaksi yang ditimbulkannya. Jadi bukan dengan sanksi sepihak begitu solusinya, tetapi buka pintu dialog,” dijelaskannya.

Hal senada juga diungkapkan Sekretaris MMD DKI Jakarta, Al Kautsar, dirinya yang juga seorang aktivis merasa terpanggil atas kasus skorsing karena demonstrasi atas sejumlah mahasiswa ISTN. Baginya, apa yang dilakukan pihak Rektorat ISTN adalah sebuah bentuk dari pemberangusan kehidupan dunia kampus yang akan berujung pada tumpulnya daya kritis dan analitis dari mahasiswa sebagai objek dunia pendidikan tinggi.

“Cita-cita pendidikan itu mencerdaskan, bukan justru terkesan membodohi. Sebagai sesama angkatan muda, kami mengecam apa yang dilakukan pihak Rektorat ISTN kepada sejumlah mahasiswa itu. Kini zaman sudah berganti, bukan lagi era Orde Baru yang bisa seenaknya melarang orang untuk mengemukakan pendapat, lantas kalau dirasa merugikan dapat dikenai hukuman. Tidak begitu caranya di era demokrasi sekarang ini. Dan mirisnya ini terjadi di lingkungan kampus,” tegas Al Kautsar.

Sebagai rasa solidaritasnya, Al Kautsar pun menyatakan bahwa MMD akan senantiasa memberikan dukungan moriil dan kalau memang dibutuhkan siap untuk turun bersama mahasiswa ISTN guna menuntut keadilan atas sanksi yang diberikan rektorat terhadap sejumlah mahasiswa tersebut.

“Jelas bahwa hak bagi mahasiswa ya mendapatkan pendidikan yang layak, pendidikan tidak hanya didapatkan dari diktat-diktat bangku perkuliahan, tetapi juga pada kehidupan organisasi serta lingkungan ekstra kampus. Kami mendukung apa yang dilakukan mahasiswa ISTN untuk melawan kesewenangan pihak kampus. Bahkan kalau memang dibutuhkan, kami siap turun ke jalan bersama teman-teman mahasiswa ISTN demi menegakkan cita-cita reformasi yang mengedepankan prinsip kemerdekaan untuk menyatakan pendapat,” tutup Al Kautsar.

Komentar Facebook