NENO WARISMAN, INTELIJEN DAN POLITIK KEKUASAAN

Sebuah catatan Himawan Sutanto
Aktivis Partai Demokrat

Indonesia kembali akan menyelenggarakan Pilpres dan Pileg dalam sejarah pertama secara bersamaan di tahun 2019. Pesta demokrasi yang terjadi tiap lima tahunan ini mengacu pada UU Politik No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Seperti biasa kita akan memasuki tahun politik, dimana tahun 2019 adalah pelaksanaan pilpres dan pileg. Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan 14 partai politik sebagai peserta Pemilihan Umum 2019. Secara sah KPU telah mensahkan 14 partai politik sebagai peserta Pemilu 2019. Setelah mendaftar ke KPU kemudian diputuskan ada dua pasangan yakni Joko Widodo berpasangan deng KH. Ma’ruf Amin dengan Prabowo Subiyanto berpasangan dengan Sandiaga Salahudin Uno.

Ketika KPU memutuskan kedua pasangan tersebut, dinamika politik menjadi dinamis. Sebelum adanya pasangan capres dan cawapres yang mendaftar, dinamika politik sudah mulai nampak. Munculnya #GantiPresiden2019 adalah salah satu tagar yang viral di medsos beberapa bulan lalu, ditambah dengan lagu #GantiPresiden2019 menjadi bagian yang menjadi bumbu gerakan ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Neno Warisman adalah tokohnya, dimana dia selalu menjadi ikon gerakan tersebut. Tak heran, kedatangannya selalu menjadi daya tarik bagi masyarakat yang butuh perubahan dan tak elak para penguasa sepertinya menjadi panik dan resah. Kemudian dilawan dengan #Jokowi2Periode yang lahir karena melawan #GantiPresiden2019. Walaupun gerakannya berbeda, #Jokowi2Periode dimobilisasi secara masif dan biaya yang tinggi. Hal itu menjadi gerakan #Jokowi2Periode tidak mendapat dukungan dari nitizen, kecuali para pendukung fanatik Jokowi.

Dari perjalannya, #GantiPresiden2109 menjadi gerakan yang tidak bisa dibendung. Dimana-mana kaos dijual dan menjadi laris manis, hingga bisnis kaos menjadi bagian dari besarnya gerakan tersebut. Kehadiran tokoh perempuan Neno Warisman telah menjadi magnet baru bagi dunia politik Indonesia. Neno Warisman adalah seorang ibu rumah tangga, sebelumnya Neno adalah seorang penyanyi yang sudah lama ditinggalkan setelah menikah dan menjadi pendakwah. Neno Warisman adalah orang baru di dunia gerakan, tapi #GantiPresiden2019 adalah sebuah gerakan yang memberikan vitamin bagi perubahan.

  Menyoal Program Nikah Massal Pemda DKI Jakarta.

Kasus dipulangkannya Neno dari Bandara Pakanbaru adalah bukti dimana pemegang kekuasaan sudah mulai panik dan gelisah. Apalagi peran Kabinda daerah tersebut telah terlibat secara langsung. Sejak kapan intelinjen berada digaris depan dalam kasus politik ? itulah pertanyaan yang selalu muncul dibenak kita. Intelijen adalah garda depan negara untuk memberikan masukan tentang indikasi kerawanan di setiap lini NKRI. Bukan menjadi alat kekuasaan atas dasar like and dislike saja.

Neno adalah perempuan yang sangat diuntungkan dengan gerakan ini, sebab Neno mampu menyuarakan suara ibu-ibu yang menghadapi himpitan ekonomi. Ekonomi Indonesia yang mengalami penurunan dan harga-harga melambung naik, hingga daya beli masyarakat menurun. Disinilah sosok Neno berani menyuarakan kondisi ekonomi bangsa ini. Wajar jika para pemegang kekuasaan menjadi panik dan kalut menghadapi gerakan Neno. Selamat buat Neno, teruslah bergerak dan perubahan sudah didepan mata.

SEKIAN

Komentar Facebook