Agitasi usang berbungkus tinjauan terhadap pidato AHY

Agitasi usang berbungkus tinjauan terhadap pidato AHY.

Suatu tanggapan artikel.

By @awemany

Saya menemukan artikel ini lewat di timeline. Saya membaca dan berharap menemukan sesuatu yg menarik. Apa mau dikata. Yang mengarang adalah Andi Saiful Haq. Orang yang punya motif politik untuk merendahkan value dari acara itu.

https://geotimes.co.id/komentar/dilema-pidato-ahy/amp/?__twitter_impression=true

Sebagai suatu agitasi, artikel ini memenuhi taktik standard. Di awal, ia memberikan pujian terhadap AHY. Disebutnya kalau AHY berkharisma, tidak manja, tidak angkuh, punya tata bahasa yang runut dan pintar (yang dicontohkannya dengan menguasai teori tentang pertahanan militer). Ini pujian terukur. Hal-hal yang tampak betul dan karenanya tidak perlu dibantah. Lebih baik digunakan untuk membangun persepsi pembaca kalau artikel ini netral. Wes biyasa.

Sesaat setelah itu mulailah bung Andi menyorongkan judgment bahwa pidato  AHY itu  adalah percobaan politik yang gagal dan tidak akan memberikan efek elektabilitas apapun kepada AHY apalagi Partai Demokrat. Suatu penilaian yang ujug-ujug datang.  Hadir tiba-tiba tanpa basis argumen apa lagi fakta dan data. Suram.

Gagal dari mana? Elektabilitas AHY itu tumbuh dengan pertemuan-pertemuan serupa ini. Acara yang diliput TV One hanya orasinya. Namun sebelum itu AHY beraudiensi. Mendengar di forum-forum kecil. Ini yang jarang terliput.  Sudah lihat angka elektabilitas AHY setelah acara itu? Kok berani bilang gagal?

Pada babak pertama Andi ingin menafikan persoalan kekuatan fisik sebagai pilar kekuatan pemuda. Mengambil anecdotal case tentang Tan Malaka dan Soekarno yang sedang sakit dalam momen-momen penting. Ini jelas bukan hal yang paralel dengan sebutan kekuatan fisik sebagai pilar dalam konsep kemudaan. Di sini, Andi hanya melihat fisik sebagai modal jadi politikus atau tokoh bangsa. Ya jaka sembung bawa golok.

Jika kita serius melakukan analisa,  pembeda utama orang muda vs orang tua memang adalah keunggulan fisik vs jumlah pengalaman. Ini hukum alamnya. Saat muda kita punya energi berlimpah yang diproduksi oleh kemudaan itu. Harusnya itu berbekas menjadi pengalaman untuk menjadi kebijakan saat beranjak tua. Tidak ada yang keliru di sana.

Jika kaum muda tidak didorong untuk memanfaatkan itu bagi kemajuan ya sia-sia kemudaannya. Bekerja dengan lebih gigih melalui long hours adalah contoh sederhananya. Bekerja 15 – 18 jam sehari, saat usia 30 an harusnya hal yang biasa. Namun, tentu saja bukan hanya soal fisik. AHY tidak abai dengan faktor mental dan intelektual.

Tentang mental, rupanya bung Andi ini jenis orang yang tidak mampu melihat utuh. AHY tidak cuma bicara pengabdian. AHY bicara soal loyalitas, komitmen, totalitas dan pengorbanan. Terdengar seperti tentara? Ya rapopo. Tentara itu memang sering kali dipuji sebagai profesi bermental kuat.

Pertanyaan pentingnya apakah itu mental yang kita inginkan untuk orang muda? Ini bisa jadi diskusi yang panjang karena menyangkut pilihan dengan landasan ideologis. Karena acara itu adalah orasi dan bukan forum ilmiah maka tidak diargumenkan kenapa mental seperti itu yang dipilih.

  Menggagas Investasi Pemrov DKI di Sektor Pelabuhan

Dikotomi soal membangun mental adalah menajamkan perbedaan karakter individualism vs collectivism. Pilihan karakter AHY adalah collectivism melalui 4 penciri tadi: loyalitas, komitmen, totalitas dan pengorbanan. Anda lihat bahwa mentalitas yang dimaksud AHY selalu berorientasi pada orang lain. Orang tua, bangsa dan negara. Apakah pilihan lainnya yaitu individualism sesuatu yang buruk? Tidak. Semata pilihan ideologis.

Melihat AHY seolah mementingkan intelektual akademis, seperti yang dituduhkan bung Andi adalah upaya untuk nyinyir saja. Tidak ada jejak itu dalam pidatonya. Apalagi soal ketiadaan aspek kepeloporan. Jelas tidak menyimak. Karenanya ini memang harus dipahami sebagai upaya agitasi. Usaha untuk menihilkan nilai intelektualitas AHY.

Padahal dalam orasi itu AHY tidak bicara tentang dirinya. Ia bicara tentang pemuda dimana ia adalah bagian dari itu. Tidak ada upaya membanggakan intelektualitas dirinya di acara itu. Toh orang sudah tahu.

Pemuda harus berani merebut kesempatan untuk ikut menentukan nasib dan masa depan bangsa Indonesia”.

Ini pernyataan yang jelas tentang kepeloporan. Sesuatu yang tidak didengar oleh bung Andi. Entah untuk alasan apa.

AHY di sana berulang kali menyebut tentang pemuda sebagai kunci perubahan dan keberpihakan untuk menghadapi ketidakadilan. Apakah masih kurang keberpihakan intelektualnya?

Karena ditulis oleh orang dengan motif politik ya saya paham kemana ini mau dibawa ke mana. Dan memang sampai juga di poin itu.  Mengulang narasi usang. AHY adalah boneka bapaknya. Suatu penghinaan atas akal sehat juga.

AHY yang diakuinya sebagai orang yang pintar, lalu diframing sebagai boneka. Sesat tidak ada habisnya.

Saya perlu mengingatkan bahwa AHY itu telah berusia 40 tahun. Dengan segudang pengalaman dan setumpuk kapabilitas. Untuk orang secerdas itu menjadi boneka bukan pilihan. Pilihan untuk memindahkan pengabdian dari militer dan sipil adalah calculated decision yang diambilnya. AHY tahu nilai dirinya dan siapa bisa membantah kemungkinan ia yang sebenarnya memanfaatkan jejaring dan pengaruh ayahnya?

Tulisan yang penuh prasangka. Bahkan, dan ini memalukan, bung Andi tidak paham kalo AHY punya pasukan sendiri yang terpisah. Kogasma. Suatu team yang personelnya memang direkrutnya sendiri. Team ini jelas dipenuhi oleh banyak anak muda. Bukan sekedar mesin peninggalan bapaknya. Fakta ini mudah saja diverifikasi. Kalau mau.

Sedemikian dalam prasangkanya. Sedemikian dangkal argumen dan data yang dibawanya. Lalu kita masih harus percaya pada kesimpulannya di judulnya? Please deh.

 

 

Komentar Facebook