Demokrat DKI Ungkap Alasan Mengapa Poros Koalisi Harus Pilih AHY Sebagai Cawapres

Demokrat DKI – Kesadaran akan partisipasi politik bisa terbangun karena beberapa hal, salah satunya stimulus akan kondisi bangsa yang semakin memprihatinkan. Kemudian, muncullah figur-figur kepemimpinan baru yang dianggap sebagai solusi dari persoalan Bangsa Indonesia 3 tahun ke belakang hingga di tahun-tahun ke depan. Salah satunya adalah figur muda yang mulai dianggap sebagai cermin kepemimpinan nasional di era mendatang, Agus Harimurthi Yudhoyono atau yang kita kenal dengan nama AHY.

Nama AHY mulai mencuat kala Pilkada DKI Jakarta 2017 silam. Dirinya pun digadang-gadang sebagai figur alternatif dari buntunya pilihan akan sosok pemimpin DKI Jakarta saat itu. Namun pada kontestasi politik Pilkada DKI Jakarta tersebut, AHY dengan persiapan yang sangat singkat harus menerima kenyataan bahwa belum saatnya Jakarta dipimpin oleh figur muda yang potensial, baik secara kapasitas maupun kapabilitas.

Kini menjelang Pilpres 2019, nama AHY kembali mencuat sebagai salah satu figur yang akan diusung menjadi Cawapres dari poros koalisi bersama Partai Demokrat, Partai Gerindra, PKS dan PAN. Menyoroti hal ini, DPD Demokrat DKI Jakarta mengungkapkan beberapa hal terkait keniscayaan dari hadirnya figur AHY sebagai sosok pemimpin Indonesia dan tentunya harus menjadi dasar pertimbangan dari poros koalisi untuk menjadikan AHY sebagai pemimpin.

“Jika kita melihat trend para pemimpin dunia yang bermunculan, ada sebuah pola di mana banyak pemimpin muda terpilih. Mereka dianggap sebagai solusi dari persoalan bangsanya, bukan tanpa alasan pastinya pemimpin-pemimpin muda dunia ini berhasil meraih kekuasaan di negaranya masing-masing. Bisa kita sebutkan ada Sebastian Kurz yang berusia 31 tahun menjabat sebagai pemimpin tertinggi di Austria, kemudian yang fenomenal adalah Emanuel Macron, di usianya ke 39 tahun, Ia berhasil duduki kursi kekuasaan Presiden Prancis. Masih banyak lagi, termasuk AHY di Indonesia yang 10 Agustus nanti masuk usia 40 tahun,” ujar Ketua DPD Partai Demokrat DKI, Santoso, SH.

“Artinya, kemunculan figur pemimpin muda ini adalah sebuah keniscayaan bagi banyak negara di dunia. Mereka adalah pembaharu, penggugah harapan masyarakat terhadap idealnya sebuah tatanan kenegaraan, mereka juga punya gagasan dan keberanian mendobrak kultur konvensional, menjadi berperadaban. Termasuk Indonesia saya rasa. Kenapa tidak? Tinggal rakyat Indonesia yang menentukan mau atau tidak memberi kesempatan kepada yang muda untuk maju memimpin bangsa ini ke gerbang kejayaan,” ditambahkan olehnya.

Selain pandangan jika pemimpin muda adalah sebuah keniscayaan bagi negara-negara di dunia dalam memasuki era global. Terdapat penilaian lain mengapa poros koalisi dan nantinya rakyat Indonesia harus memilih AHY sebagai pemimpin masa depan bangsa. Hal ini diungkapkan oleh Taufiqurrahman, SH selaku Wakil Ketua III DPD Partai Demokrat DKI Jakarta. Baginya, poros koalisi di manapun nanti Partai Demokrat akan bergabung harus pertimbangkan mengenai keberadaan AHY sebagai legitimasi hadirnya pemimpin muda di Indonesia.

“Indonesia pada Pemilu 2019 sampai dengan 30 tahun mendatang mengalami ledakan demografi, kita memiliki jumlah pemilih di bawah usia 40 tahun yang cukup besar, sekitar 100 juta pemilih atau 52% dari jumlah total pemilih di Indonesia. Sentimen usia dan semangat muda ini cukup efektif untuk menjadi keunggulan dari figur yang akan dipilih. AHY memiliki itu sebagai legitimasi pemilih muda. Bukan hanya persoalan usia, dari segi kompetensi dan kapabilitas, AHY memiliki background yang bagus, sangat memuaskan. Kalau hadir di acara kenegaraan kemudian berbicara dengan tamu dari luar negeri minimal kita akan bangga, kalau ternyata pemimpin kita bisa berkomunikasi secara verbal dan linguistik dengan baik menggunakan bahasa internasional,” dijelaskan Taufiqurrahman, SH.

  Hari Batik Nasional, SBY: Marilah Kita Jaga dan Lestarikan Budaya Batik Ini

Apa yang diungkapkan pria yang menjadi Caleg DPR RI Dapil 2 DKI Jakarta ini bukan tanpa bukti nyata. Secara akademis AHY memang di atas rata-rata, latar belakang pendidikan AHY pun menunjang kompetensi dirinya. AHY mendapatkan gelar Master of Science in Strategic Studies dari Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University. Selain itu, AHY juga sempat mengenyam pendidikan di Kennedy School, yaitu Edward S. Mason Fellowship, dengan Program studi Master in Public Administration/Mid Career (MPA/MC).

Bukan hanya latar belakang pendidikan yang secara gamblang menunjang kompetensi AHY, namun secara pribadi, AHY pun disebut Taufiqurrahman, SH sebagai figur ideal sebagai pemimpin bangsa ini. Selain itu, faktor politis termasuk kekuatan jejaring partai di pelosok daerah dan pusat menjadi bagian tak terpisahkan dari alibi mengapa harus AHY yang menjadi Cawapres.

“Saya kenal sebagai pribadi dengan AHY, karena saya di Kogasma juga bertugas dalam suksesi Pilkada 2018 lalu. AHY figur yang bertanggung jawab, jujur, cerdas, dan disiplin karena dilatarbelakangi didikan militer. Suksesnya Partai Demokrat pada Pilkada 2018 dengan capaian 46,78% dari target 40% kemenangan di 171 daerah juga menjadi bukti kelihaian juga mumpuninya AHY dalam berpolitik. Karena dirinya memimpin langsung suksesi pemenangan dengan roadshow keliling daerah bertemu masyarakat,” diungkapkan Taufiqurrahman, SH.

“Selain itu, poros koalisi tentunya harus pertimbangkan kekuatan kita secara nasional yang terepresentasikan melalui jumlah legislatif di DPR RI. Kita punya 10,9% suara nasional atau setara dengan 61 kursi DPR RI. Hal ini bisa dimaknai sebagai kuatnya jaringan dan mesin politik Partai Demokrat di daerah. Faktor Pak SBY yang masih memiliki banyak loyalis pendukung termasuk akseptabilitas ke tokoh-tokoh nasional maupun keagamaan patut juga menjadi pertimbangan utama, untuk menjawab pertanyaan, mengapa harus AHY yang dipilih poros koalisi sebagai Cawapres pada Pemilu 2019?,” imbuhnya.

Komentar Facebook